Jumat, 31 Juli 2020

MEMASUKI BULAN KE-5

1 Agustus 2020, sudah bulan Agustus aja. Lima bulan sudah kita semua menjalani kehidupan yang tidak normal karena pandemi SARS CoV-2.
 
Diawal pandemi ini memasuki Indonesia, banyak konsepsi yang salah yang diproses oleh kepala saya. Konsepsi yang salah ini, saya akui karena terlalu riwehnya mendapatkan informasi yang baik dan benar untuk mengetahui apa dan bagaimana virus ini. Benar virus ini menyebar melalui droplets, namun bukan berarti oksigen yang kita hirup mengandung virus covid ini. Ada terms dan condition hingga bisa virus ini menyebar dan menjadi wabah penyakit COVID-19.

Memahami Terms dan Condition inilah yang kemudian yang harusnya menjadi pemahaman bersama di masyarakat untuk membantu pemerintah menghentikan rantai pandemi ini. Sejauh pemahaman saya hingga hari ini, term dan conditionnya tetap sama. 

Namun angka statistika penderita COVID - 19 yang makin tinggi, saya rasa bukan hanya disumbangkan dari jumlah alat test cepat yang disediakan pemerintah guna membantu untuk melakukan tracking penderita. karena bagaimanapun juga alat test cepat itu digunakan tidak secara massive, namun lebih diprioritaskan kepada mereka-mereka yang menunjukan gejala atau yang memang melakukan kontak dengan penderita.

Tingginya angka statistika tersebut, juga disumbangkan dari diabaikannya terms and conditions tentang penyebaran virus SARS CoV-2 ini. Apa aja sih Terms and Conditionnya ?

1. Hindari Berkumpul / berkerumun dalam bentuk apapun. 
2. Jaga Jarak
3. Gunakan Masker 
4. Mencuci tangan
5. Mandi Keramas setelah berpergian.

Kira-kira itulah terms dan condition yang bisa saya rangkum. Terms dan Conditions itu menjadi kunci keberhasilan penyebaran SARS CoV-2. Seharusnya tidak sulit, karena masa inkubasi virus ini 14 hari. Yang sulit adalah masyarakat Indonesia. 

Bagaimana bisa sulit ? Ini menurut pendapat dan pengamatan saya secara pribadi :

1.Berkumpul.  Ditengah pandemi, muncul komunitas baru. Hingga menghilangkan akal sehat siapapun yang terdampak pandemi ini secara langsung (sektor informal). Komunitas bersepeda. yang namanya komunitas tentu saja menunjukan sebuah perkumpulan. Bagaimana cara komunitas bersepeda berkumpul ? tentu saja dengan cara bersepeda ramai-ramai. what else ?!. Berkerumun adalah cara efektif dan efisien untuk virus ini menyebar dan mencari inang baru.

2. Jaga jarak, garis merah / kuning yang bisa ditemukan dipusat perbelanjaan seakan menyulitkan bagi manusia Indonesia untuk dijalani, karena bagi mereka, gap antrian antar garis seharusnya bisa disisipi dengan antrian. Atau bagaimana bisa kita bergibah kalau ada jarak diantara kita? dan bergibah cuma berdua rasanya kurang seru perlu orang ke-3 orang ke-4 lebih seru klo ada orang ke-6 biar makin seru gibahnya. tanpa jarak dan berkumpul, sangat membantu sekali virus ini menyebar.

3. Gunakan masker, bersepeda menggunakan masker berbahaya, sesorang  bisa kekurangan oksigen dan pada kondisi tertentu bisa berakhir pada kematian. So dont use mask when you cycling. Padahal ketika bersepeda kita menghembuskan napas lebih besar dari ketika kita berbicara, dan ketika dilakukan dalam kelompok tentunya jarak droplets yang membuat virus bisa meloncat dan mencari inang baru tentunya sangat membantu bagi virus menyebar. berkumpul, tanpa jarak dan tanpa masker. Well Done People You all doing a great Job dalam membantu virus ini menyebar dan mencari inang baru.

4. Mencuci tangan, kemudahan yang diberikan oleh industri yang memproduksi handsanitizer terkadang membuat salah kaprah. Handsanitizer digunakan ketika kita kesulitan menemukan air dan sabun. Prioritasnya utama yang ditekankan adalah air dan sabun. 

5. Mandi Keramas Setelah Berpergian, mungkin dilakukan. Tapi bagaimana cara dilakukannya ? apakah seperrti yang disosialisasikan pemerintah ?  - Mandi Keramas Setelah Bepergian -  ini adalah contoh link SOP yang disosialisasikan pemerintah. Bahkan perginya cuma sebentar dan cuma deket selemparan kancut, jika dalam perjalanan ini kita menemui orang lain yang kita ga tau apakah orang itu baru saja berkumpul, baru aja bergibah atau tidak menggunakan masker sebelumnya ketika melakukan poin 1 dan 2. Wajib mandi keramas rasanya. 

Itu semua adalah pandangan dan pengamatan saya mengenai bagaimana terms dan condition ini dijalani.

Diawal bulan Juli, seluruh masyarakat Indonesia dapat menyaksikan bagaimana Presiden Joko Widodo terlihat dan terdengar geram. Dan kemudian Beliau menyampaikan kita kehilangan "SENSE OF CRISIS". Buat saya, apa yang disampaikan Bapak Presiden itu bukan ditujukan untuk seluruh jajarannya saja tapi masyarakat Indonesia yang mengabaikan terms dan conditions penyebaran virus ini. 

Sudahlah, berhenti egois. Ketika tidak terdampak pada dirimu atau keluargamu, atau temanmu atau kolegamu, bukan berarti dampak itu tidak ada untuk orang yang berada diluar circle mu. Sebagaimana mudahnya virus itu menyebar, begitu juga dengan yang namanya virus kepedulian hanya seandainya kita mau tepo slira

Yuk sama-sama kita pahami terms and conditions penyebaran virus ini. Selesainya pandemi is not a one man job. Its all our Job. 

Sabtu, 11 Juli 2020

Anak bertanya tentang Gei...

Ini adalah kejadian ketika saya menjalani piket masuk kantor, waktu masih berlaku Work From Home. Siang hari sepertinya Nanta nonton yutup undertale (I have no idea, kenapa dia suka undertale. Saya juga udh pernah nemenin Nanta nonton undertale dan masih OK aja untuk ditonton berdasarkan standar saya). Sepertinya apa yang dia tonton siang hari itu, menyimpan sebuah pertanyaan di Nanta sehingga masih dia simpan untuk dia tanya saat dia inget untuk tanyakan ke mamanya.

 

Saat makan malam sudah selesai, tapi Nanta masih duduk di kursi makan dan bertanya sesuatu sambil nyeruput botol minumnya. "Ma, apa itu gei?" .

 

Seketika tenggorokan jadi gatel dan merasa perlu untuk membuat batuk kecil, menelan ludah dan kemudian bertanya lebih jelas lagi dengan pertanyaannya. 

 

Mama (M) : "Tulisannya gimana ? G U Y ?"

Nanta  (N) : "I dont know mom, aku dengernya gei"

M : "Kk dengernya dimana ?"

N : "Di Yutup Undertale"

M : "Kalimat yang kakak denger gimana ?"

N  :” Dude, you sound like gei’

 

Dalam hati, oh Tuhan ternyata Gei yang ditanya Nanta adalah GAY bukan GUY.

 

M : “awalnya ada percakapan itu gimana ?”

N : “San lagi ngobrol sama temennya dan temennya ngomong klo apa gitu terus dibalas sama San -dude you sound like gay-. Emang artinya apa ma ?

M : “Temennya SAN itu cowo ?”

N : “Iya”

M : “Mama mau liat dong yutupnya”

 

-Saya menonton sama Nanta mulai pada detik dimana mulai ada pembicaraan itu-

 

Pertanyaan-pertanyaan itu saya ajukan ke Nanta karena saya harus mengumpulkan semua informasi yang saya perlukan sebagai bahan untuk menjelaskan ke Nanta apa aja yang perlu Nanta tau tentang yang dia tanya itu. Saat itu, Bapaknya udah ninggalin meja makan, karena klo ga salah HP nya bunyi atau dia mau ngerokok di bawah pohon.

 

M : “ maksud hati temennya San itu adalah memuji SAN karena SAN keliatan keren. Tapi buat SAN, dia ga biasa di puji kayak gitu. Jadi SAN ngerasa aneh sambil bicara gitu. SAN merasa aneh dengan kalimat temennya, karena emang ga biasa cowo memuji penampilan fisik cowo lainnya. Nah kakak tau arti kalimat SAN itu  klo diterjemahin ke bahasa Indonesia ?”

 

N : “ Kamu terdengar seperti GAY, terus GAY itu apa ?”

M : “Gay itu artinya cowo yang mempunyai ketertarikan lebih pada cowo”

N : “Maksudnya ?”

M : “Cowo yang suka sama cowo juga”

N : “Hah?!?!?”

Kebetulan papanya masuk lagi, mau belok ke kamar ngambil sesuatu kayaknya waktu itu. Saya langsung ngomong “Papa, Nanta nanya Gay itu apa?”

 

Si Bapak berhenti melangkah, membalik badannya dan kemudian duduk diundak-undakan...saya ikut duduk disampingnya. Menceritakan asal mula kenapa Nanta tiba-tiba nanya apa itu Gay..

 

Kurang lebih begini kira-kira papanya menjelaskan atau menjawab apa itu Gay.

 

Papa (P) : “Di luar sana, ada yang namanya cowo suka sama cowo atau cewe suka sama cewe kak. Klo sama cowo disebutnya Gay, Klo sama cewe disebut Lesbi. Its not normal, tapi itu ada”.

 

N : “kenapa bisa begitu?”

 

P : “Kita tidak akan pernah tahu kenapa ada manusia yang bisa seperti itu. Mungkin pernah ada luka dengan jiwanya..mungkin ada pengalaman yang dia alami sehingga dia terluka jiwanya. Kita ga akan pernah tahu”.

 

M : “Seperti yang papa bilang tadi itu tidak normal. Kalau kakak inget pelajaran IPA kakak tentang perkembangbiakan tumbuhan, pada bunga ada yang namanya putik dan benang sari. Yang putik itu disebut alat kelamin apa kak pada bunga ?”

 

N : “Betina”

 

M : “Klo di bunga, alat kelamin jantannya disebut apa ?”

 

N : “Benang sari”

 

M: “didalam putik ada yang namanya bakal biji, bakal biji ini akan menjadi buah kak, bakal biji ini akan tumbuh menjadi bakal pohon. Di semesta aja untuk bisa berkembang biak butuh betina dan jantan supaya bisa jadi buah, supaya buahnya keluar biji yang matang supaya bisa jadi pohon lagi. Itu normalnya alam semesta ini bekerja”

M : “Begitu juga dengan manusia kakak, manusia bisa berkembang biak jika ada laki-laki dan perempuan. Lebih rumit lagi klo manusia kak, intinya normalnya alam semesta bekerja itu tadi”.

 

P : “Karena yang ga normal ini ada, bukan berarti kakak kemudian jadi memusuhi mereka. Biasa aja, selama mereka ga ganggu kakak, bersikap biasa aja.”

 

Nanta lebih banyak menyimaknya. Entah dia menyimpan dalam memorinya atau tidak.

 

Informasi begitu mudah sampai ke anak-anak, terkadang tidak meminta pun informasi tersedia begitu saja. Seperti asal mula pembicaraan tentang gay ini terjadi. Jamannya udah begini, kita harus berputar bersamanya.  

 

Yang pasti sebisa mungkin kami bisa memberikan jawaban kepada anak-anak kami khususnya, menurut pemahaman dan prinsip kami. Kami berusaha memberikan pengertian, pemahaman dan bekal. Entah bagaimana mereka nanti bersikap adalah keputusan sepenuhnya ada pada dirinya masing-masing, apalagi ketika mereka kemudian menjadi manusia yang dewasa.

 

Tuhan selalu menjaga, melindungi dan mengasihi anak-anakku (Nanta dan Dhita).


Kamis, 02 Juli 2020

Noni' mulai Sekolah

Sabtu, 13 Juli 2019 akhirnya kami ke sekolah buat daftarin Noni' ditingkat TK kecil. Karena tanggal 15 Juli tahun ajaran baru sudah dimulai.

Kalau tahun - tahun sebelumnya Ngerayu Noni' buat masuk sekolah, akhir semester lalu Noni' mulai menanyakan tentang sekolah dan saya jadi aras-arasan...karena bagi saya, begitu Anak mulai sekolah..waktu berjalan sangat cepat sekali (lha Piye toh buuu)

Saya mengantarkan terlebih dahulu si Kakak ke sekolah, karena Kk masuk lebih pagi dari jam sekolah anak teka.

Agak lama saya menunggu Noni' datang diantar Bapaknya. Saya deg-degan untuk alasan yang saya sendiri ga ngerti kenapa bisa saya deg-degan (pada saat itu)...

Dia datang, dengan air muka yang pede sekali, mata yang ekspresif, dan dari sorot matanya saya bisa membaca bahwa dia benar-benar siap...(entah nanti bagaimana sewaktu pulang sekolah). Saya antarkan dia sampai depan pintu masuk area Teka. Miss-miss sudah menyambut, dan kami melepaskan dia, celingak-celinguk tapi masih pede.

Karena saya tidak bisa meninggalkan kantor di siang hari untuk jemput Noni', saya selalu nelpon pak suami, menanyakan : bagaimana ekspresi Noni'  papa, bahagia ga dia pa? Aaah aku pengen lihat ekspresi muka dia pulang sekolah, aku mau simpan di memori ku.

Sampai akhirnya 4 hari kemudian, saya baru bisa jemput dia, itu juga terlambat sekali jemputnya. Hampir 1 jam dia menunggu di sekolah, untuk dijemput. Ekspresi muka dan hati yang bicara melalui mata bukan ekspresi yang saya bayangkan anak di jemput pulang sekolah. Saat itu ekspresinya "ah akhirnya aku ada yang jemput". Setelah pamit dengan miss-miss ya, Noni' bertanya sambil kita menuruni tangga "kok aku lama sekali dijemput". "Mama minta maaf ya Nak".


Hari ini kembali, Bapaknya yang jemput dia sekolah. Waktu sore kami ketemuan di Semarang Bawah, Bapaknya bercerita : 

👨: "Ade tadi tapi tanya nama teman-temannya, dia ga tau. Ta suruh kenalan dulu, masa udah main tapi ga tau nama temannya."

👩 : "Terus ?"

👨 : "Kenalan dia, yg satu namanya Ameera, terus dia balik lagi ke papa. Ta tanya lagi, yg itu namanya siapa (bapake nunjuk anak paket baju Batman)

👩 : Anak laki yang di video lari-lari SM Noni' ?

👨 : Iya, tau ga Anak itu jawab aku apa ? Dia langsung liat temennya yg cowok itu, dia jawab...o itu namanya Betmen..

Si bapak kesel denger jawaban asal anak cewenya, nyuruh Noni' kenalan lagi...sambil nyerocos mana ada anak namanya betmen...


Saya yang denger cerita itu ngakak, oh em ji, kelakuan anak cewe mirip bgt sama bapake. Asal jawab...




Selasa, 30 Juni 2020

Kok Mama Bisa Tau - Part 2-

Lanjutannya lagi ya ! terakhir dipostingan sampai Saya menjelaskan ke Ananta kalau pertanyaan tidak bisa dijawab sembarangan.

Kenapa ga bisa dijawab sembarangan ? Coba posisikan dirimu sebagai penanya itu, kira-kira kenapa bisa muncul pertanyaan itu di kamu ?

Ketika saya kemudian mencerna pertanyaan Ananta tersebut, dalam pikiran saya -yang memposisikan diri sebagai Ananta- adalah “Aku tu agamanya Hindu karena ada yang kasih tau ke mama kalau nanti aku lahir kasih tau ke aku yang baru lahir itu kalau agamanya nanti adalah Hindu”.

Ketika saya memposisikan diri saya sebagai keke dan mendengar pertanyaan anak saya, sepertinya saya menangkap sebuah pemikiran bahwa Saya yang ngelabelin anak saya ini. Dulu jaman kuliah, ketika ngumpul sama temen-temen kampus ada aja obrolannya, salah satunya tentang ini “Ah lo itu menganut agama karena bapak ibu lo”. Saat denger temen saya itu, pikiran saya menyanggahnya, secara Bapak Ibu ku berbeda agama. Ibu orang Saparua Maluku besar di Jakarta agama Kristen Protestan, Bapak kelahiran Karangasem Bali agama Hindu. Dan saya memilih menjadi orang Bali.

Saya mencoba menjawab Ananta berdasarkan pengalaman selama saya hidup. Saya ga bisa menyampaikan tentang pengalaman keagamaan saya, karena ya itu tadi saya besar dalam sebuah keluarga yang pluralis dengan kompleksitas yang sangat tinggi, mungkin kapan-kapan akan saya tulis tentang bagaimana saya tumbuh dan berkembang.

Seperti dalam postingan sebelumnya, ga mungkin kan saya menjelaskan tentang agama yang dianut karena kelahirannya, karena hal itu sama dengan saya serta merta secara langsung melabeli anak-anak saya. Tapi memang semenjak lahir, itu yang saya kenali ke anak-anak saya.

Dikepala tu, saya mulai menyusun apa saja yang harus saya jelaskan ke Ananta. Kuncinya : “Sense Of Belonging”.

Penjelasan saya dimulai dengan “Karena Ananta dan Nandhita lahir sebagai orang Bali. Ada budaya, ada adat dan ada nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak dari dulu kala yang berjalan di Nusantara (BTW, saya sudah biasa menjelaskan ke anak-anak soal Nusantara adalah nama Indonesia pada jaman dahulu kala). Tapi bukan karena KK lahir sebagai orang Bali kemudian KK menjadi Hindu, bukan karena itu. Hindu itu datangnya dari luar Nusantara kak, sama seperti Islam, Kristen dan Budha.

Hindu di Bali ga sama dengan Hindu di tempat asalnya India. Di Bali, dari mulai seorang Ibu mengandung sampai dengan manusia mati, ada nilai budaya nusantara dan agama yang dipadukan. Apa yang sudah ada di nusantara tidak bisa ditinggalkan gitu aja kak. Ga ada negara yang maju dengan meninggalkan budayanya. Karena itu lah ciri khas negara itu, yang disesuaikan dengan alam semesta raya dimana negara itu ada, yang membuat negara itu tidak sama dengan negara lainnya. Budaya itu hasil buah pikiran para leluhur kita yang berusaha hidup bersama alam raya. Budaya itu adalah yang memberikan wujud di kita.

Sama aja kayak gimana sih orang tau nanta itu yang mana ? oohhh...yang rambutnya lurus, yang kulitnya hitam, yang kalau pakai baju selebor, yang selalu ketinggalan barangnya, yang rumahnya di bukitsari.

Terus masuklah nilai-nilai agama ke nusantara, yang masuk duluan itu Agama Hindu lalu Budha, yang mana keduanya menyesuaikan dengan budaya yang sudah ada di Nusantara maka jadi lah agama Hindu Siwa, Siwa-Budha, terbentuk budaya baru, hasil buah pikir leluhur juga menyatukan nilai budaya dengan agama. Bisa keliatan contohnya seperti candi borobudur, dan klo di Bali itu tempat sembahyang ada yang punya ruang 3, inget ga tempat sembahyang di rumah wayah di Parikesit ? yang deket pintu masuk ketempat sembahyangnya...itu menyimbolkan Brahma, Wisnu, Siwa. Semua yang ada di nusantara itu, di negara asal Hindu atau Budha ga ada itu semua kak, dan semua yang di nusantara bisa menerima perpaduan budaya dan agama itu. Karena itulah yang menjadikan Nusantara, itulah kita. Dijaga baik-baik apa yang sudah kita punya.

Ga ada yang kasih tau mama kalau mama itu Hindu, atau kristen, atau islam.  Mama yang memilih. Mungkin begitu juga dengan papa. Tau dulu siapa dan darimana kita, mama misalnya Ooo mama orang Bali, ooo di Bali itu begini, begitu...di Bali kita menghormati leluhur makanya ada yang namanya pura kawitan, tiap tanggal tertentu kita sembahyang, yang di Bali sembahyang ke kawitan, yang diluar Bali kayak kita gini sembahyang untuk leluhur kita dari tempat sembahyangnya kita.

Sekarang kakak tau kakak itu orang Bali ? Ya. Jadi orang Bali, ada pura kawitan yang harus dijaga sebagai penghormatan kita kepada leluhur kita.


Kamis, 04 Juni 2020

Darimana Mama Tau ?

Semenjak Working From Home, kegiatan makan bersama menjadi hal yang rutin dilakukan utamanya makan siang dan makan malam.

Ada benarnya ternyata apa yang orang sampaikan, meja makan mempererat ikatan keluarga. Bukan masalah meja makannya, tapi momen makan bersama dimeja makan, momen dimana bisa ngobrol bareng, mendengarkan pikiran dan hati masing-masing anggota keluarga. Kalau ada yang bilang "Kalau makan ga boleh ngobrol" nampaknya malah ga berlaku buat kami, karena saat makan biasanya kami ngobrol, klo ga ngobrol berarti lagi ada masalah diantara anggota keluarga 😃😃😃.

Siang hari, saat makan siang bersama. Kami cuma bertiga (Saya, Ananta dan Nandhita). Ditengah santap siang itu. Obrolannya bermula dari Ananta menyampaikan hanya dia yang ga zoom agama, karena agama Hindu harus menunggu Pak Eko guru agamanya. 'Apa Pak Eko ga ngabarin mama ?", Saya sampaikan klo pelajaran agama Hindu harus menunggu waktu yang tepat, karena harus ngumpulin semua siswa agama Hindu di Kota Semarang. “Semua temen-temenku yang lain setiap minggu ada zoom agama ma”.

Kalimat terakhirnya ga terlalu saya bawa pusing, dalam hati saya berkata apa ga malah jadinya enak jadi ga ada pelajaran ?. Sebisa mungkin saya selalu menanggapi pertanyaan-pertanyaan anak-anak, kali ini saya bilang “sabar ya kak”

“Mama. tau darimana kalau agamanya orang itu ini lah itu ?”
“ya dilihat aja kak, kalau dia sholat berarti Islam, klo temen kakak yang nasrani pas pelajaran agama bawa alkitab berarti klo ga Kristen Protestan ya Katolik.”
“Maksud aku, mama tau darimana kalau dia itu agamanya itu?
“Lha iya itu tadi kak”
“Oo...maksud kakak, kok orang tau agamanya dia ini, kakak agamanya ini” saya kemudian melepaskan pandangan saya dari piring makan saya dan melihat ke arah Ananta, yang ternyata masih asik sama piring makannya”
“Maksudnya kakak bagaimana ?”
“Aku kan Hindu, mama tau dari mana kalau aku Hindu ?”
“Lha kakak tau dari mana kalau kakak Hindu ?”
“Ya dari mama lah, mama yang bilang kalau aku Hindu, mama tau darimana kalau aku lahir aku Hindu ?”

Ini waktu Ananta nanya, dia ga lepas pandangannya dari piring makannya, sedangkan saya mulai sibuk nyari dimana letak HP berada, mo nyatet, mo ngirim ke bapaknya pertanyaan Anak lakinya.

Ini waktu dia tanya, dia itu syantai banget, tapi untuk menjawabnya butuh kehati-hatian banget, ga bisa sembarangan tapi harus dilakukan dengan santai. Kemudian karena saya ga langsung respon (Lha iyalah, gimana coba mau ngerespon pertanyaan yang diajukan sesyantai itu tapi berat banget pertanyaannya?).
Karena jeda yang mungkin agak lama, dia melepaskan pandangannya dari piring makan, “Ma..mama”. Nampaknya dia menunggu jawabannya, udah direkam sih pertanyaannya, tapi respon dari orang yang ditanyain juga kurang lebih sama sperti saya.

Ga mungkin kan saya menjelaskan tentang agama yang dianut karena kelahirannya ?

“Nanta, ini pertanyaan yang ga bisa mama jawab sembarangan, bisa salah dimama dan keliru di kakak kalau mama sembarangan menjawab”.

Lalu bagaimana saya jelaskan tentang pertanyaannya ? Pada postingan berikutnya yaaa bakalan saya jelaskan apa aja yang saya jelaskan ke Ananta tentang pertanyaannya ini 😊




Rabu, 22 April 2020

Bukan Fans nya Justin Bieber, Tapi kali ini Ada yang Beda



Siapa yang suka Justin Bieber ? Saya ga pernah menyukai Justin Bieber - sekarang populer dengan Huruf Inisial namanya JB -. Waktu dia masih bocah, klo liat video clip nya berasa mikir duh bocah kok udah main cinta-cinta-an gini, begitu remaja "duh anak ini kenapa jadi tatoan sekujur badan dan celana kayak mo melorot gitu, dan mata kayak kurang tidur, kebanyakan minum atau ngobat". Not a good role mode banget ni anak.

Intinya ga ada yang membuat saya suka dengan JB. Tapi kemarin siang menjelang sore, pas lagi khusuk nyetrika, sinar matahari semarang yang aduhai, langit yang biru mentereng dan ditemani siaran radio sonora (berasa balik jaman kuliah lagi) masuk lah lagu Justin Beiber itu. Karena terlalu khusuknya nyetrika, jadi saya yang didukung kemampuan listening yang alakadarnya, cuma bisa nangkep lirik nya seperempat-seperempat. Tapi anehnya malah jadi bikin penasaran, lagunya kayaknya bagus ni. Nah apa tadi ya judul lagunya ?.

Hari ini, dengan menggunakan patahan kalimat dari liriknya yang ketangkep seperempat-seperempat di kuping, saya minta bantuan paman google. Paman Google please find “justin Bieber beautiful with no filter” .... jreng...jreng... “Justin Bieber – Intension”. Carilah liriknya dan seperti dugaan saya, kuping dan kadar kemampuan listening saya yang seperempat-seperempat terbukti ngaco abis!!, kagak ada itu kata beautiful with no filter!, tapi entah mengapa paman google pandai sekali, algoritmanya paman google kemudian berhasil mengetahui apa isi kepala saya dan menghadirkan apa yang saya maksud.

Jadi sebenernya ketika kuping saya mendengar lagu itu dan kemampuan listening yang seperempat-seperempat ini, kemudian disimpulkan oleh otak saya yang pas-pasan ini dengan “oo..liriknya tentang seorang cowo lagi mo kasih tau cewenya, kalau kamu itu cantik tanpa aplikasi filter apapun”. Tapi kenapa khusus banget ini lagu sampai harus dibuatin tulisan dalam blog ?.

Ada pesan yang sangat sederhana, tapi justru sangat manis kedengerannya, ada lirik dimana memberikan penghormatan dan terima kasih kepada orangtua yang telah berhasil membesarkan anak, yang Saya rasa bukan Cuma di fisik tapi juga disikap dan karakter.
Fisik yang cantik/ganteng sempurna, attitude yang baik, karakter yang kuat, semua itu paket yang membuat seorang manusia. Genuine nya akan keliatan, tanpa perlu filter, ga dibuat-buat, ga bertopeng. Ga perlu pengakuan dari orang-orang, karena semua itu udah menjadi trademark diri yang dibesarkan dengan baik oleh orangtuanya.

Jadi, ini adalah lagu pertama dari Justin Bieber yang saya suka sampai saya berniat sekali memposting ini dalam blog saya.

Selasa, 14 April 2020

The Kite Runner

Malam itu, pukul 22.00 seorang teman menelpon dan mengabarkan kalau dia butuh bantuan untuk menyelesaikan inputannya. Waktu sudah mendesak, karena 2 jam lagi sistem akan ditutup.
Dalam hati saya mmg sudah berjanji padanya untuk menyelesaikan inputan itu yg harusnya sudah diselesaikan pukul 15.30. 

Menjelang jam 12 malam saya baru selesai membantunya, akibatnya kalau sebelum jam 10 saya belum tidur adalah kantuk ga kunjung datang...

Akhirnya baca buku sampai kemeng selesai jam 1 malam. Udh bingung karena kantuk tetap juga ga kunjung datang, akhirnya saya nyalain TV, langsung ke channel HBO. Karena covid ini, entah u-seetv membuka semua channel hiburannya atau emang akibat dr saya melakukan upgrade indihome.

Film yg tayang pagi itu adalah "The Kite Runner" adegan sudah 80% berlangsung rupanya. 

Keesokan harinya saya memutuskan untuk melihat lagi jadwal tayang judul the kite runner itu. 06.30 hari sabtu. Dan merencanakan untuk menontonnya bersama anak lanang.

Sabtu, 06.30 the kite runner runner tayang lagi. Akhirnya menonton dr awal. Suasana Afganistan ditahun 1978, lalu kemudian invasi Rusia kepada Afganistan sehingga membawa Afganistan dikuasai oleh Taliban setting tahun 2000.

Afganistan tahun 1978 sangat berbeda, saya berpikir apakah settingannya mmg dibuat spt itu? Atau sebenernya itu adalah suasana Afganistan pada tahun itu! Tarian, kegembiraan dan wanita2nya yg cantik rambut indah terurai dan mata yang indah, bulu mata lentik, alis yang tebal, orang2 yang menggunakan baju, celana, gaun yang sama aja kayak belahan bumi Indonesia tahun film warkop DKI

Kemudian ketika settingan beralih ke tahun 2000, ketika Amir harus kembali ke Afganistan -setelah puluhan tahun ia tinggalkan dan menjadi imigran di AS- untuk menjemput keponakannya yang bernama Sobhar. Sobhar adalah anak dari sahabatnya yg merupakan pelayan di rumah Amir dulu yang bernama Hasan, dan belakangan baru amir ketahui bahwa Hasan adalah anak dari ayah amir dengan seorang pembantu.

Suasana Afganistan berubah luar biasa, bahkan Amir sendiri mengatakan "Saya merasa seperti turis di tanah kelahirannya sendiri".

Guna menjemput keponakannya, amir harus bertemu dengan pimpinan wilayah itu di sebuah stadion dan menyaksikan hukuman yg diterapkan selama Taliban berkuasa di Afganistan. Amir bertemu dengan assef, sseorang yang dikenalnya ketika masih tinggal di Afganistan tahun 1978. Assef menjadi bagian dari Taliban dan keponakannya ada di tangan assef untuk menjadi seorang penari yang didandani seperti seorang wanita.

Amir mengetahui bahwa Assef telah melaukan pelecehan terhadap keponakannya selama ia berada di penahanan assef. Sebagaimana yang pernah assef lakukan terhadap ayahnya Sobhar.

Siksaan yang harus amir dapatkan untuk mengambil sobhar ia jalani...dari sisi assef, itu adalah hukum yg harus diterima amir karena berkhianat pada negara dan bergabung dengan kafir.

Film ini berdurasi kurang lebih 2 jam namun menyentuh hati saya hingga sekarang. Kalimat dari ayah Amir yang saya ingat sampai sekarang dan saya tafsirkan sendiri "tidak ada tindakan yg lebih buruk dari mencuri. Bahkan membunuh adalah sebuah pencurian pencurian terbesar, karena kamu tidak hanya mengambil nyawa yg kau bunuh, tapi kehidupan dari orang2 yang ditinggalkan.."

Dari Hasan saya belajar tentang kesetiaan dan harga diri.

Postingan kali ini tersimpan dikepala cukup lama, setelah saya dengan iseng komentarin status WA seorang temen yg lagi tergila2 nonton drama korea akibat pemberlakuan Work From Home ini....

Jumat, 10 April 2020

Ngobrol Sama Anak Lanang

Anak Lanang (AL) : mama, kenapa muka mama ? Kok kayak lagi not happy gitu

Mama (MM) : ga apa2 kak, lagi baca twitter dan mama kesel dgn sikap orang2 karena wabah ini. 

AL : kenapa ma orang2?

MM : banyak yg bilang kalau hanya Tuhan yang bisa melindungi manusia dari corona itu ... Yg mau merayakan menyambut nyepi masih berduyun-duyun sembahyang ke pantai untuk melasti, yg pengen sholat ke mesjid, yg pengen ke gereja...bahkan bilang, virus itu ga mempan kalau kita di tempat ibadah.

Kayak virusnya bisa diajak kompromi  pas liat orang lagi ibadah terus di pintu masuk virusnya ngomong "wuah lagi pada sembahyang ni...ntar Tuhan marah klo kita ganggu, ga usah aja lah..

AL : kenapa mereka gitu ma ? Emangnya mereka mikirnya virus punya otak dan mata sama telinga gitu ?

MM: mungkin mereka mengira begitu nang, mengira virus takut sama Tuhan

AL : emang virus punya rasa ma ? 

MM : ya engga lah kak...klo yg kita liat di video2 itu cuma animasi aja...supaya ltu menarik...

AL : i dont get it ma, terus kenapa orang2 pikir kalau virus punya otak untuk mikir dan hati untuk merasa...

MM : ga tau kak, mgkn mereka takut Tuhan marah kalau ga menjalani ibadah seperti biasanya ... Dan dapat hukuman dr Tuhan...

Lalu...pembicaraan disudahi begitu saja...dalam hati saya berdoa. Tuhan kuasa Mu besar adanya...Engkau Maha segala2 nya... Maha mengetahui, Maha Pengampun -bahkan dgn pemikiran kami manusia yg merasa Engkau akan marah ketika kami lebih takut dengan virus ini drpd mendatangi dan memenuhi rumah-Mu untuk beribadah, terdengar melecehan ke-Maha-an yang Engkau miliki...Maafkan keterbatasan kami, sehingga kami pun membatasi Ke- Maha - an - Mu dan menyebabkan keadaan yang ada sekarang ini...



Senin, 13 Januari 2020

Special Treatment

Waktu pagi kemarin, kami bertiga sarapan seperti biasa. Setiap pagi masih selalu ada cerita dimana adik Dhita menye-menye manja. Wajar sih, anak bayi masih harus diberitahu pelan-pelan. Sesuatu yang regular dilakukan.

Tetapi pagi itu, ada yg tidak biasa. Anak Lanang sambil sarapan nyeletuk "mom, why adik always get special treatment from you?"

Maksudnya special treatment kak ?

Mama kalo bicara sama adik dengan suara lembut, adik kalo nangis mama sayang2, adik ga habisin makanan Mama selalu bilang ke KK untuk bantuin habiskan....

Itu semua ga biasa anak Lanang sampaikan ke kami. -Ga biasa atau biasanya ga ada kesempatan untuk mencurahkan apa yg ada di hati dan pikirannya- ...itu yang kemudian muncul dalam pikiran saya.

Akan selalu ada moment dimana anak merasakan sesuatu yang menurut mereka orangtua ga adil, atau mereka ga memahami apa yang orangtua lakukan, ucapkan atau putuskan. Atau momen ketika mereka merasa tidak nyaman menjalani hari sekolah atau berteman. Moment yang butuh saat itu juga mereka utarakan apa yang mereka rasa.

Tapi terkadang kesibukan orangtua atau orangtua yang ga selalu bisa ada hadir saat dibutuhkan membuat mereka mengendapkan apa yang mereka rasakan...kehilangan momentum...

Kakak, ga ada yang namanya special treatment. 

Pertama, Kakak dan adik beda usia 4 tahun. Waktu kakak seumur adik, juga mama memperlakukan kakak seperti mama memperlakukan adik. Adik masih 5 tahun, anak bayi lima tahun disebut balita. Masih suka2 dia...tapi kita tetap kasih tau. Pelan-pelan.

Kedua, adik itu perempuan. Cara berbicara mama dengan anak laki dan perempuan pasti akan berbeda.

Ketiga, kakak tau adik kan ? Ada masalah apapun dia ga pernah kasih tau orangtua. Ga pernah kasih tau papa atau mama. Ada orang sakiti adik aja, dia simpan dalam hati. Kk tau ga adik pernah nangis di sekolah karena adik ga diajak main sama temennya. Dia minta ijin ke Miss untuk ke kamar mandi. Dan adik nangis di kamar mandi. Adik pikir ga ada yg tau adik nangis.

Kalo ga ada yg tau, kok mama bisa tau ?

Mama iseng nanya adik, bagaimana sekolahnya, apa ada yg nangis hari ini ? Adik jawab kok mama tau ? Di sana mama curiga jangan2 yg nangis adik. Mama wa Miss adik, dan jawabannya memang adik nangis.

Adik keluar dr kamar mandi dan tersenyum kak...

Ada masalah apapun...adik selalu tunjukin ke orang dia happy.  Kita sebagai keluarganya harus bisa yakini dia kalau bisa cerita ke kita apa aja. Dia butuh percaya sama kita kak...dan untuk bisa membuat adik percaya kita, harus pelan-pelan sekali..

Terlebih setelah liburan kemarin ..ada yang adik belum mau untuk cerita ke kita...dan adik hanya mau cerita ke Mbah...kita ga tau apa yang adik rasain, tapi adik jadi agak annoying buat kakak. Pelan2 ya kita perbaiki.

Jadi kak, ga ada special treatment....

Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously :  Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka nai...