Semenjak Working From Home, kegiatan makan bersama menjadi hal yang rutin
dilakukan utamanya makan siang dan makan malam.
Ada benarnya ternyata apa yang orang sampaikan, meja makan mempererat
ikatan keluarga. Bukan masalah meja makannya, tapi momen makan bersama dimeja
makan, momen dimana bisa ngobrol bareng, mendengarkan pikiran dan hati
masing-masing anggota keluarga. Kalau ada yang bilang "Kalau makan ga
boleh ngobrol" nampaknya malah ga berlaku buat kami, karena saat makan
biasanya kami ngobrol, klo ga ngobrol berarti lagi ada masalah diantara anggota
keluarga 😃😃😃.
Siang hari, saat makan siang bersama. Kami cuma bertiga (Saya, Ananta dan
Nandhita). Ditengah santap siang itu. Obrolannya bermula dari Ananta
menyampaikan hanya dia yang ga zoom agama, karena agama Hindu harus menunggu
Pak Eko guru agamanya. 'Apa Pak Eko ga ngabarin mama ?", Saya sampaikan
klo pelajaran agama Hindu harus menunggu waktu yang tepat, karena harus
ngumpulin semua siswa agama Hindu di Kota Semarang. “Semua temen-temenku yang
lain setiap minggu ada zoom agama ma”.
Kalimat terakhirnya ga terlalu saya bawa pusing, dalam hati saya berkata
apa ga malah jadinya enak jadi ga ada pelajaran ?. Sebisa mungkin saya selalu
menanggapi pertanyaan-pertanyaan anak-anak, kali ini saya bilang “sabar ya kak”
“Mama. tau darimana kalau agamanya orang itu ini lah itu ?”
“ya dilihat aja kak, kalau dia sholat berarti Islam, klo temen kakak yang
nasrani pas pelajaran agama bawa alkitab berarti klo ga Kristen Protestan ya
Katolik.”
“Maksud aku, mama tau darimana kalau dia itu agamanya itu?
“Lha iya itu tadi kak”
“Oo...maksud kakak, kok orang tau agamanya dia ini, kakak agamanya ini”
saya kemudian melepaskan pandangan saya dari piring makan saya dan melihat ke
arah Ananta, yang ternyata masih asik sama piring makannya”
“Maksudnya kakak bagaimana ?”
“Aku kan Hindu, mama tau dari mana kalau aku Hindu ?”
“Lha kakak tau dari mana kalau kakak Hindu ?”
“Ya dari mama lah, mama yang bilang kalau aku Hindu, mama tau darimana
kalau aku lahir aku Hindu ?”
Ini waktu Ananta nanya, dia ga lepas pandangannya dari piring makannya,
sedangkan saya mulai sibuk nyari dimana letak HP berada, mo nyatet, mo ngirim
ke bapaknya pertanyaan Anak lakinya.
Ini waktu dia tanya, dia itu syantai banget, tapi untuk menjawabnya butuh
kehati-hatian banget, ga bisa sembarangan tapi harus dilakukan dengan santai.
Kemudian karena saya ga langsung respon (Lha iyalah, gimana coba mau ngerespon
pertanyaan yang diajukan sesyantai itu tapi berat banget pertanyaannya?).
Karena jeda yang mungkin agak lama, dia melepaskan pandangannya dari piring
makan, “Ma..mama”. Nampaknya dia menunggu jawabannya, udah direkam sih
pertanyaannya, tapi respon dari orang yang ditanyain juga kurang lebih sama
sperti saya.
Ga mungkin kan saya menjelaskan tentang agama yang dianut karena
kelahirannya ?
“Nanta, ini pertanyaan yang ga bisa mama jawab sembarangan, bisa salah
dimama dan keliru di kakak kalau mama sembarangan menjawab”.
Lalu bagaimana saya jelaskan tentang pertanyaannya ? Pada postingan
berikutnya yaaa bakalan saya jelaskan apa aja yang saya jelaskan ke Ananta tentang
pertanyaannya ini 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar