Selasa, 30 Juni 2020

Kok Mama Bisa Tau - Part 2-

Lanjutannya lagi ya ! terakhir dipostingan sampai Saya menjelaskan ke Ananta kalau pertanyaan tidak bisa dijawab sembarangan.

Kenapa ga bisa dijawab sembarangan ? Coba posisikan dirimu sebagai penanya itu, kira-kira kenapa bisa muncul pertanyaan itu di kamu ?

Ketika saya kemudian mencerna pertanyaan Ananta tersebut, dalam pikiran saya -yang memposisikan diri sebagai Ananta- adalah “Aku tu agamanya Hindu karena ada yang kasih tau ke mama kalau nanti aku lahir kasih tau ke aku yang baru lahir itu kalau agamanya nanti adalah Hindu”.

Ketika saya memposisikan diri saya sebagai keke dan mendengar pertanyaan anak saya, sepertinya saya menangkap sebuah pemikiran bahwa Saya yang ngelabelin anak saya ini. Dulu jaman kuliah, ketika ngumpul sama temen-temen kampus ada aja obrolannya, salah satunya tentang ini “Ah lo itu menganut agama karena bapak ibu lo”. Saat denger temen saya itu, pikiran saya menyanggahnya, secara Bapak Ibu ku berbeda agama. Ibu orang Saparua Maluku besar di Jakarta agama Kristen Protestan, Bapak kelahiran Karangasem Bali agama Hindu. Dan saya memilih menjadi orang Bali.

Saya mencoba menjawab Ananta berdasarkan pengalaman selama saya hidup. Saya ga bisa menyampaikan tentang pengalaman keagamaan saya, karena ya itu tadi saya besar dalam sebuah keluarga yang pluralis dengan kompleksitas yang sangat tinggi, mungkin kapan-kapan akan saya tulis tentang bagaimana saya tumbuh dan berkembang.

Seperti dalam postingan sebelumnya, ga mungkin kan saya menjelaskan tentang agama yang dianut karena kelahirannya, karena hal itu sama dengan saya serta merta secara langsung melabeli anak-anak saya. Tapi memang semenjak lahir, itu yang saya kenali ke anak-anak saya.

Dikepala tu, saya mulai menyusun apa saja yang harus saya jelaskan ke Ananta. Kuncinya : “Sense Of Belonging”.

Penjelasan saya dimulai dengan “Karena Ananta dan Nandhita lahir sebagai orang Bali. Ada budaya, ada adat dan ada nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak dari dulu kala yang berjalan di Nusantara (BTW, saya sudah biasa menjelaskan ke anak-anak soal Nusantara adalah nama Indonesia pada jaman dahulu kala). Tapi bukan karena KK lahir sebagai orang Bali kemudian KK menjadi Hindu, bukan karena itu. Hindu itu datangnya dari luar Nusantara kak, sama seperti Islam, Kristen dan Budha.

Hindu di Bali ga sama dengan Hindu di tempat asalnya India. Di Bali, dari mulai seorang Ibu mengandung sampai dengan manusia mati, ada nilai budaya nusantara dan agama yang dipadukan. Apa yang sudah ada di nusantara tidak bisa ditinggalkan gitu aja kak. Ga ada negara yang maju dengan meninggalkan budayanya. Karena itu lah ciri khas negara itu, yang disesuaikan dengan alam semesta raya dimana negara itu ada, yang membuat negara itu tidak sama dengan negara lainnya. Budaya itu hasil buah pikiran para leluhur kita yang berusaha hidup bersama alam raya. Budaya itu adalah yang memberikan wujud di kita.

Sama aja kayak gimana sih orang tau nanta itu yang mana ? oohhh...yang rambutnya lurus, yang kulitnya hitam, yang kalau pakai baju selebor, yang selalu ketinggalan barangnya, yang rumahnya di bukitsari.

Terus masuklah nilai-nilai agama ke nusantara, yang masuk duluan itu Agama Hindu lalu Budha, yang mana keduanya menyesuaikan dengan budaya yang sudah ada di Nusantara maka jadi lah agama Hindu Siwa, Siwa-Budha, terbentuk budaya baru, hasil buah pikir leluhur juga menyatukan nilai budaya dengan agama. Bisa keliatan contohnya seperti candi borobudur, dan klo di Bali itu tempat sembahyang ada yang punya ruang 3, inget ga tempat sembahyang di rumah wayah di Parikesit ? yang deket pintu masuk ketempat sembahyangnya...itu menyimbolkan Brahma, Wisnu, Siwa. Semua yang ada di nusantara itu, di negara asal Hindu atau Budha ga ada itu semua kak, dan semua yang di nusantara bisa menerima perpaduan budaya dan agama itu. Karena itulah yang menjadikan Nusantara, itulah kita. Dijaga baik-baik apa yang sudah kita punya.

Ga ada yang kasih tau mama kalau mama itu Hindu, atau kristen, atau islam.  Mama yang memilih. Mungkin begitu juga dengan papa. Tau dulu siapa dan darimana kita, mama misalnya Ooo mama orang Bali, ooo di Bali itu begini, begitu...di Bali kita menghormati leluhur makanya ada yang namanya pura kawitan, tiap tanggal tertentu kita sembahyang, yang di Bali sembahyang ke kawitan, yang diluar Bali kayak kita gini sembahyang untuk leluhur kita dari tempat sembahyangnya kita.

Sekarang kakak tau kakak itu orang Bali ? Ya. Jadi orang Bali, ada pura kawitan yang harus dijaga sebagai penghormatan kita kepada leluhur kita.


Kamis, 04 Juni 2020

Darimana Mama Tau ?

Semenjak Working From Home, kegiatan makan bersama menjadi hal yang rutin dilakukan utamanya makan siang dan makan malam.

Ada benarnya ternyata apa yang orang sampaikan, meja makan mempererat ikatan keluarga. Bukan masalah meja makannya, tapi momen makan bersama dimeja makan, momen dimana bisa ngobrol bareng, mendengarkan pikiran dan hati masing-masing anggota keluarga. Kalau ada yang bilang "Kalau makan ga boleh ngobrol" nampaknya malah ga berlaku buat kami, karena saat makan biasanya kami ngobrol, klo ga ngobrol berarti lagi ada masalah diantara anggota keluarga 😃😃😃.

Siang hari, saat makan siang bersama. Kami cuma bertiga (Saya, Ananta dan Nandhita). Ditengah santap siang itu. Obrolannya bermula dari Ananta menyampaikan hanya dia yang ga zoom agama, karena agama Hindu harus menunggu Pak Eko guru agamanya. 'Apa Pak Eko ga ngabarin mama ?", Saya sampaikan klo pelajaran agama Hindu harus menunggu waktu yang tepat, karena harus ngumpulin semua siswa agama Hindu di Kota Semarang. “Semua temen-temenku yang lain setiap minggu ada zoom agama ma”.

Kalimat terakhirnya ga terlalu saya bawa pusing, dalam hati saya berkata apa ga malah jadinya enak jadi ga ada pelajaran ?. Sebisa mungkin saya selalu menanggapi pertanyaan-pertanyaan anak-anak, kali ini saya bilang “sabar ya kak”

“Mama. tau darimana kalau agamanya orang itu ini lah itu ?”
“ya dilihat aja kak, kalau dia sholat berarti Islam, klo temen kakak yang nasrani pas pelajaran agama bawa alkitab berarti klo ga Kristen Protestan ya Katolik.”
“Maksud aku, mama tau darimana kalau dia itu agamanya itu?
“Lha iya itu tadi kak”
“Oo...maksud kakak, kok orang tau agamanya dia ini, kakak agamanya ini” saya kemudian melepaskan pandangan saya dari piring makan saya dan melihat ke arah Ananta, yang ternyata masih asik sama piring makannya”
“Maksudnya kakak bagaimana ?”
“Aku kan Hindu, mama tau dari mana kalau aku Hindu ?”
“Lha kakak tau dari mana kalau kakak Hindu ?”
“Ya dari mama lah, mama yang bilang kalau aku Hindu, mama tau darimana kalau aku lahir aku Hindu ?”

Ini waktu Ananta nanya, dia ga lepas pandangannya dari piring makannya, sedangkan saya mulai sibuk nyari dimana letak HP berada, mo nyatet, mo ngirim ke bapaknya pertanyaan Anak lakinya.

Ini waktu dia tanya, dia itu syantai banget, tapi untuk menjawabnya butuh kehati-hatian banget, ga bisa sembarangan tapi harus dilakukan dengan santai. Kemudian karena saya ga langsung respon (Lha iyalah, gimana coba mau ngerespon pertanyaan yang diajukan sesyantai itu tapi berat banget pertanyaannya?).
Karena jeda yang mungkin agak lama, dia melepaskan pandangannya dari piring makan, “Ma..mama”. Nampaknya dia menunggu jawabannya, udah direkam sih pertanyaannya, tapi respon dari orang yang ditanyain juga kurang lebih sama sperti saya.

Ga mungkin kan saya menjelaskan tentang agama yang dianut karena kelahirannya ?

“Nanta, ini pertanyaan yang ga bisa mama jawab sembarangan, bisa salah dimama dan keliru di kakak kalau mama sembarangan menjawab”.

Lalu bagaimana saya jelaskan tentang pertanyaannya ? Pada postingan berikutnya yaaa bakalan saya jelaskan apa aja yang saya jelaskan ke Ananta tentang pertanyaannya ini 😊




Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously :  Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka nai...