Jumat, 29 Oktober 2021

Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously : Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka naik gunung juga kok aku ga nanya-nanya hobi dia ya?".

Dia mengulurkan tanganya memperkenalkan dirinya "Haloo, Gw Eka Pacar Lo". Seketika saya geli sendiri dengan perkenalannya "Ah Iya, Gw keke Pacar Lo juga". 

Klo diinget-inget, kami memang mengawali perkenalan ini dengan cara santai tapi kaku..kakunya saya dicover dengan penggunaan panggilan yang masih gw elo an (bukan sok-sok-an Jakarta, bukan !! Kebawa Cisauk nya dan entah kenapa dia juga terdengar biasa aja ngucapain gw elo an padahal besar di semarang), dan hal itu berlangsung hingga hampir 2 tahun kami berpacaran. Tetap aja karena perbedaan usia yang 3 tahun saya dengan dia, ada kebiasaan untuk manggil kakak laki yang ga ada hubungan kandung tapi dia orang Bali dengan menambah predikat Bli. Jadi ngomongnya campur-campur gitu "Bli, lo tau ga ini...Bli, gw mo gini".

Selepas dia menghabiskan makanannya, kita langsung menuju rumah orangtua saya. Sesuai kesepakatan, dia bersedia meminta ijin orangtua saya untuk berpacaran. Sebelumnya saya sudah menyampaikan ke orangtua saya kalau ada orang yang mo datang ke rumah untuk memperkenalkan diri.

Seperti biasa, Bokap yang selalu khawatiran sama anak perempuannya pasang muka yang tegang. Dalam hati saya  "ya udah lah ya...pakai jeans model sowek sana sini..." Bokap menerima dia di teras, dan meminta saya untuk masuk kedalam rumah. Biasanya bokap minta dibuatkan kopi klo ada tamu, tapi setelah perintah masuk ke dalam rumah, ga ada perintah lainnya. Jadi saya cuma bisa nunggu di dalam di meja makan...selama kurang lebih lama .... deep interview sepertinya. Dan saya ga punya nyali untuk coba nguping pembicaraan bokap, nyokap dan dia. 

Sampai dengan "Ndeeeeek....ada tamu kok ga dibuatin kopi..." ahahahhahahha...sakti juga tu orang!! modal celana robek dia bisa bikin bokap minta saya buatin kopi. Setelah kopi saya antarkan, bokap nyokap masuk kedalam rumah sambil berpesan baik-baik ya. 

Kepo Maksimal langsung saya tanya "Kok bisaaaaaa, ditanyain apa aja".....Eh singkat cerita, dunia ternyata selebar daun kelor. Bokap sebagai mahasiswa yang kuliah di UNPAD Bandung dulu, tinggal di asrama Bali, dan mengikuti kegiatan kumpulan mahasiswa Bali di Bandung sedikit banyak tau tentang keluarga besar dia. Bahkan tau tentang ibunya, dan saudara-saudara ibunya...."Bokap ga nanyain soal celana robek-robek ?" Engga dia bilang....That was weird!!!

Besokannya, sebagai orang yang masih pengangguran, nungguin hasil interview sana sini, Saya masih bisa bebas kesana kemari tapi BOKEK! ahahahhahah....malu minta duit sama orangtua pas udah lulus kuliah.

Dia minta ditemenin ke Glodok abis itu mo dikenalin ke orangtuanya. Sampai di depan pagar rumahnya....saya minta dia ga turun dari mobil untuk buka pagar rumahnya. Saya tanya "Lo anak siapa ? ini rumah siapa ? Bokap lo kerjaanya apa ? ini kita masuk ke rumah siapa gede banget!!!"

Dia saat itu cuma menjawab "apaan sih lo ke?, udah masuk aja dulu". Pikiran ga tenang, kenapa sih ga nanya detail dulu...bukannya dia bilang dia temennya kadal ya ? katanya dia sodaraan ama made, ini made anak FEPALA kan ? emang ada made yang lainya ? Setelah dia parkir mobilnya dalam garasi, dia persilakan saya masuk, pintu masuknya ada di bangunan seberang garasi mobilnya, yang ternyata adalah meja makan..."Astaga bangkunya banyak banget sih, ini gw duduk dimana yak, tu orang kemana sih, rumahnya sepi dan besar banget" saya posisinya masih ga berani bergerak dari dekat pintu masuk yang ternyata adalah meja makan. "ooo papanya tentara ya..."sambil lihat foto pria menggunakan seragam tentara lengkap dengan tanda tanda di dadanya..."kok gw ga nanya detail ya...duh...tu orang penampilannya biasa banget, celana jeans sowek sana sini, Bapaknya tentara, rumahnya banyak sofa"

Cisauk saya keluar sekate kate sambil nungguin kemana tu orang pergi ninggalin gw sendirian...abis itu dia keluar dari dalam sebuah ruangan dibelakangnya sepertinya mamanya..astaga tinggi sekali...dia bilang "Ma, ini kenalin temen deketnya eka" saya ga juga bergerak nyamperin mamanya. tapi saat itu mamanya berkata "Loh kok berdiri aja, duduk dulu, masuk sini" refleks saya adalah menarik bangku yang paling deket dengan jangkaua tangan saya yaitu bangku meja makan. Perbuatan refleks itu membawa mamanya berkata lagi "Loh kamu lapar, mau makan  ?".... "Oh engga tante,udah makan tadi" "Kok duduk di meja makan?" lalu ternyata papanya ada di dalam ruangan yang sama ketika itu, sedang duduk di meja kerjanya dengan tumpukan buku dan berkas yang membuat saya ga bisa lihat klo sebenernya ada orang "Pa, ini temen deketnya eka" 

Haaaduuuh mo copot jantung saya !!! Anak cisauk kenalan sama keluarga pacar....


- Bersambung-



Minggu, 12 September 2021

Harapan

Seorang teman mengirimkan potongan video tentang obrolan 2 orang wanita yang membahas tentang faktor yang menentukan kesuksesan seorang anak itu adalah harapan orangtuanya pada si anak. 

Karena ini adalah potongan video, dan saya ga berusaha untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang siapa ni narasumber yang diajak ngobrol sama Putri Tanjung, saya ga melihat awal dan akhir pembicaraan itu, jadi saya hanya akan membahas pandangan saya terhadap isi pembicaraan dari potongan video tersebut. 

Kembali lagi dengan pernyataan si pembicara "faktor yang menentukan kesuksesan seorang anak itu adalah harapan orangtuanya terhadap si anak". Komentar saya pada teman yang mengirimkan video itu lebih kurang begini "Faktor Lebih besar yang menentukan kesuksesan seseorang itu adalah harapan dia terhadap dirinya sendiri, orangtua perannya hanya sebagai penyemangat (semacam support system)"

Komentar saya sendiri terhadap potongan video yang dikirimkan teman saya itu, membawa saya pada sebuah perenungan "Apakah Benar Kesuksesan Seseorang itu ditentukan oleh harapan orangtuanya?"  :

  • Sebesar apapun harapan orangtua kepada anak, jika harapan orgtua tidak satu frekuensi terhadap apa yang menjadi passion si anak, bisa jadi yang namanya kesuksesan hanya menjadi milik si orangtua dan si anak bisa saja menjadi pribadi yang hampa. 
  • Sebesar apapun harapan orangtua kepada anak, jika si anak ini ga punya passion apapun tentang dan terhadap hidupnya, lalu akan bagaimana si anak kedepannya jika orangtuanya tidak ada ?
  • Atau bisa jadi harapan si anak hanya sebatas memenuhi harapan orangtuanya, passion dia adalah membahagiakan orangtuanya, jika bisa memenuhi harapan orangtuanya maka bisa jadi si anak merasa dia sudah menjadi orang sukses.
Lalu bagaimana saya dan pak suami (Kami sendiri) sebagai orangtua ? 
Harapan yang bagaimana yang kami inginkan terhadap anak-anak kami?
Orangtua mana sih yang ga mau anaknya menjadi orang yang sukses tapi apakah harapan kami benar-benar akan menentukan kesuksesannya? 
Kesuksesan anak yang bagaimana sih yang menjadi ukuran saya sebagai orangtua?

Sampai saat ini, saya dan pak suami, selalu brainstorming tentang peran, tanggung jawab dan doa kami (jika doa bisa dikatakan sebagai harapan) terhadap anak-anak kami.

Selasa, 08 Juni 2021

Menghitung Berkat #1

Belakangan ini, saya menyadari Tuhan memberikan banyak sekali berkat kepada saya. Saya mau menuliskannya sebagai pengingat untuk selalu bersyukur, karena terkadang sebagai manusia yang banyak kurangnya bersyukur adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan materi berlimpah yang dimiliki.

Menghitung berkat #1, pertemuan saya dengan Pak Suami. Cara tangan Tuhan bekerja memang luar biasa dalam hidup saya. Pertemuan saya dengan Pak Suami diawali dari SMS nya kepada saya dimasa saya sedang mengirimkan banyak aplikasi lamaran kerja. Awalnya saya ga gubris, karena saat itu kali ke-2 saya mendapatkan SMS yang ngajakin kenalan, kali pertama adalah HRD dari sebuah perusahaan yang mengaku orang Bali juga dan saat itu bekerja di Jakarta. Memberikan portofolio lulusan FH UGM angkatan 2000 (yang memang ternyata ga nipu juga).

Singkat cerita setelah seminggu saya ga gubris SMS dari Pak Suami, saya mulai berpikir apakah itu nomor HP baru dari temen kuliah saya yang lumayan sering jadi teman diskusi tapi sempat lost contact. Sebagai bentuk konfirmasi, seminggu kemudian saya membalas SMS itu dengan menanyakan apakah no yang menghubungi saya adalah kawan saya itu. 

Dibalas dengan sopan memperkenalkan diri I Gde Eka Pramana, dan menyampaikan dari mana dirinya mendapatkan no HP saya. Nama teman I Gde Eka Pramana yang memberikan no saya adalah Kadal, saya juga punya temen yang namanya Kadal, adik kelas angkatan 2002 ikut Themis, salah satu UKM yang deket dengan UKM Nebula (Pecinta Lingkungan).

Setelah perkenalan via sms, lanjut telepon dan tukaran Friendster. Lalu 13 Januari 2006 I Gde Eka Pramana menyatakan perasaannya padahal kita aja belom pernah ketemu sama sekali hanya melihat foto diri masing-masing melalui Friendster. Jaman itu, belum seperti saat ini dimana kita bisa video call. Saya sudah pasti GR karena ini kali pertama ada orang dari Bali yang menyatakan perasaan pada saya, namun saya sampaikan kepadanya untuk meminta ijin lebih lanjut kepada Bapak saya tentang perasaannya itu, karena Bapak saya sedikit "over protective" dengan saya putri pertamanya.

Februari 2006 I Gde Eka Pramana ngabari kalau saat itu dia ada di Tol Cengkareng menuju rumah Saya. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Jakarta tinggal bersama orangtuanya dan menerima tawaran untuk bekerja di kantor konsultan aristek. Karena tidak terlalu tahu area tangerang akhirnya kita janjian di suatu tempat, yang mana setelah saya pikir-pikir sekarang kenapa saya menyarankan tempat yang jauh banget dari rumah saya ?!. Default Setting saya sepertinya, tidak mau orang lain jadi kesusahan atau kerepotan, memikirkan dia bukan orang Tangerang, dia mengambil Tol yang jauh dr rumahnya yang terletak di Cijantung dengan rumah saya di Cisauk Serpong (seharusnya tinggal ambil tol BSD). Jadi saya menyarankan ketemu di KFC World Trade Center Serpong (saking ga anak gaulnya saya, bahkan saya ga tau tempat nongkrong yang proper untuk ketemuan). 

Saat pertemuan itu, saya baru sadar muka dia seperti bagaimana aslinya ! karena selalu lihat hanya di friendster. Dia menyampaikan pakaian yang dikenakan "cari aja orang pakai baju hitam dan topi hijau". Saya celingak celinguk nyari ciri seperti yang disebutkan hingga menyadari ada yang melambaikan tangannya ke saya. Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka naik gunung juga kok aku ga nanya-nanya hobi dia ya?".


-Kok Aku Kecapean ya Ngetiknya-
-Bersambung deh, jemari ini memang lagi bermasalah-

 

Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously :  Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka nai...