Selasa, 08 Juni 2021

Menghitung Berkat #1

Belakangan ini, saya menyadari Tuhan memberikan banyak sekali berkat kepada saya. Saya mau menuliskannya sebagai pengingat untuk selalu bersyukur, karena terkadang sebagai manusia yang banyak kurangnya bersyukur adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan materi berlimpah yang dimiliki.

Menghitung berkat #1, pertemuan saya dengan Pak Suami. Cara tangan Tuhan bekerja memang luar biasa dalam hidup saya. Pertemuan saya dengan Pak Suami diawali dari SMS nya kepada saya dimasa saya sedang mengirimkan banyak aplikasi lamaran kerja. Awalnya saya ga gubris, karena saat itu kali ke-2 saya mendapatkan SMS yang ngajakin kenalan, kali pertama adalah HRD dari sebuah perusahaan yang mengaku orang Bali juga dan saat itu bekerja di Jakarta. Memberikan portofolio lulusan FH UGM angkatan 2000 (yang memang ternyata ga nipu juga).

Singkat cerita setelah seminggu saya ga gubris SMS dari Pak Suami, saya mulai berpikir apakah itu nomor HP baru dari temen kuliah saya yang lumayan sering jadi teman diskusi tapi sempat lost contact. Sebagai bentuk konfirmasi, seminggu kemudian saya membalas SMS itu dengan menanyakan apakah no yang menghubungi saya adalah kawan saya itu. 

Dibalas dengan sopan memperkenalkan diri I Gde Eka Pramana, dan menyampaikan dari mana dirinya mendapatkan no HP saya. Nama teman I Gde Eka Pramana yang memberikan no saya adalah Kadal, saya juga punya temen yang namanya Kadal, adik kelas angkatan 2002 ikut Themis, salah satu UKM yang deket dengan UKM Nebula (Pecinta Lingkungan).

Setelah perkenalan via sms, lanjut telepon dan tukaran Friendster. Lalu 13 Januari 2006 I Gde Eka Pramana menyatakan perasaannya padahal kita aja belom pernah ketemu sama sekali hanya melihat foto diri masing-masing melalui Friendster. Jaman itu, belum seperti saat ini dimana kita bisa video call. Saya sudah pasti GR karena ini kali pertama ada orang dari Bali yang menyatakan perasaan pada saya, namun saya sampaikan kepadanya untuk meminta ijin lebih lanjut kepada Bapak saya tentang perasaannya itu, karena Bapak saya sedikit "over protective" dengan saya putri pertamanya.

Februari 2006 I Gde Eka Pramana ngabari kalau saat itu dia ada di Tol Cengkareng menuju rumah Saya. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Jakarta tinggal bersama orangtuanya dan menerima tawaran untuk bekerja di kantor konsultan aristek. Karena tidak terlalu tahu area tangerang akhirnya kita janjian di suatu tempat, yang mana setelah saya pikir-pikir sekarang kenapa saya menyarankan tempat yang jauh banget dari rumah saya ?!. Default Setting saya sepertinya, tidak mau orang lain jadi kesusahan atau kerepotan, memikirkan dia bukan orang Tangerang, dia mengambil Tol yang jauh dr rumahnya yang terletak di Cijantung dengan rumah saya di Cisauk Serpong (seharusnya tinggal ambil tol BSD). Jadi saya menyarankan ketemu di KFC World Trade Center Serpong (saking ga anak gaulnya saya, bahkan saya ga tau tempat nongkrong yang proper untuk ketemuan). 

Saat pertemuan itu, saya baru sadar muka dia seperti bagaimana aslinya ! karena selalu lihat hanya di friendster. Dia menyampaikan pakaian yang dikenakan "cari aja orang pakai baju hitam dan topi hijau". Saya celingak celinguk nyari ciri seperti yang disebutkan hingga menyadari ada yang melambaikan tangannya ke saya. Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka naik gunung juga kok aku ga nanya-nanya hobi dia ya?".


-Kok Aku Kecapean ya Ngetiknya-
-Bersambung deh, jemari ini memang lagi bermasalah-

 

Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously :  Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka nai...