Rabu, 19 Desember 2018

Sedikit Cerita Pengalaman pertama anak lanang

Yang paling ditakuti saya sebagai orangtua adalah ketika anak-anak kami harus menghadapi dunia, menghadapi lingkungan dan segala problematikanya. Postingan kali ini tidak ada maksud untuk mendeskreditkan seseorang atau kelompok tertentu. Tapi memang mau ga mau hal seperti ini ada dimasyakarat, dan sering kali saya sendiri atau mungkin Pak Suami mengalami kejadian ini dalam masa pertumbuhan kami.

Dan hal itu terjadi ketika anak-anak menjalani liburan semester I. Kami melakukan perjalanan ke Batu Malang, liburan kali ini sudah direncanakan berbulan-bulan yang lalu. Hari ke-2 kami berada di penginapan, anak-anak mendapatkan teman baru. teman barunya ini merupakan rombongan keluarga besar. Dari logat saya menduga mereka mungkin dari wilayah Jawa Barat.

Karena Pak Suami harus ngutak-ngatik pekerjaannya, jadi kami yang sudah siap dari jam 8 pagi harus menunggu Pak Suami selesai dengan pekerjaannya. Pak suami bekerja di ruang tunggu lobby hotel, dan anak-anak bersama teman-teman barunya sudah akrab bermain. Saya ? saya lebih memilih menunggu di dalam kamar, mempersiapkan Handphone supaya batrenya ga drain out. 

Pukul 09.00 anak-anak masuk ke dalam kamar, dan berdua langsung nonton TV. Saya keluar kamar, ngecek keadaan suami. Saat nyamperin pak suami, kemudian Paksu meminta saya untuk menanyakan sesuatu ke anak-anak tentang teman-teman barunya. Ditanyain apa tadi si Kakak ma, dan tanyain bagaimana perasaan dia.

Dan ini lah yang terjadi...(si kakak lagi main minecraft di HP nya)

Mama : "Tadi dapat temen baru ya Kak?"
Kakak : "Iya"
Mama : "Main apa aja tadi ?"
Kakak : "Billiard, Carambol, panah-panahan"
Mama : "Terus, temen-temen Kakak baik sama Kakak ?"
Kakak : "Baik"
Mama : "Baiknya gimana ?"
Kakak : "Ya ada yang baik, ada yang tadinya main sama aku ga main sama aku lagi"
Mama : "Kenapa ?"
Kakak : "Dia nanya, Nanta kamu agamanya Islam ?, aku bilang agama ku Hindu. Terus dia bilang ga 
               mau main lagi sama aku karena aku bukan Islam"
Mama terdiam..memperhatikan ekspresi Nanta...yang keliatannya sih datar-datar aja.

Mama : "Terus kakak bilang apa sama temen kakak ?"
Kakak : "Ya udah"
Mama : "Ya udah gitu aja kak ?"
Kakak : "Ya aku tanya, emang kenapa ga mau main kalau aku agama Hindu ?"
Mama : "terus ?"
Kakak : "Ya ga dijawab, tapi sodaranya yang lain yang cewe tetep mau main sama aku kok ma, 
              terus ada yang lebih besar juga dr anak itu bilang kalau ga boleh begitu"
Mama : "Perasaan kakak bagaimana ?"
Kakak : "Ya biasa aja"
Mama : "Sedih ga kak, dibilang begitu ?"
Kakak : "Engga ma"
Mama : "Marah sama anak itu ?"
Kakak : "Engga, namanya anak kecil ma. Ga ngerti apa-apa dia"
Mama : "Hoo masih kecil ya kak, umur berapa ?"
Kakak : "Umur 5 tahun kalau ga salah aku denger tadi yang cewe nanya umur sama kelas ku"
Mama : "oo baru umur 5 Tahun, makanya belum belajar Pancasila kayak Kakak ya. Kalau kakak udh
               belajar dari kelas 1 SD ya"
Mama : "Tapi kak, kalau misalnya dia udh sekolah sperti kakak, dan bicara spt itu sama kakak, dan 
                ga mau main sama kakak karena kakak agama Hindu bagaimana ?
Kakak : "Ya udah ga usah main kalau ga mau main sama aku"
Mama : "Waktu anak itu bicara kayak gitu, ada mama papanya ga kak ?"
Kakak : "Ada"
Mama : "Terus ditegur ga Kak ?"
Kakak : "Engga"
Mama : "Ya udah, karena anak mama cuma kakak sama ade, jadi yang bisa mama kasih tau 
              cuma kalian berdua"

Lalu saya kembali ke Bapaknya melaporkan semua pembicaraan dengan Si kakak. Ya udah, yang penting anak itu baik-baik aja....begitu kata Pak Suami.



                                                                                                                                           





Senin, 05 November 2018

Enough is enough

"Saya kan Udah Tua...biar yang muda-muda aja yang ngerjain"

Ini adalah kalimat yang sering banget gw denger semenjak gw pindah jadi PNS Daerah. Klo orang normal pasti akan terganggu dengan kalimat itu.

Dalam hati membatin, klo udah merasa tua dan ga berkenan mengambil pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan kualifikasi entah karena "lama bekerja", "latar belakang pendidikan" maka seharusnya buat surat dan ajukan pengunduran diri. Ketimbang bebanin negara. emang ga malu apa ? pamit kerja dan di kantor ga ngapa2in ?.

Pasti semua orang pergi bekerja karena "butuh duitnya". Nah, menariknya profesi PNS itu ga semua orang mau bekerja, tapi enaknya, bisa tetap dapat "duit" alias "gaji". Jadi kenapa gw harus kerja klo ga ngapa-ngapain aja gw bisa dapat duit. Kemudian diperkuat dengan pola pikir yang absurd "Aku sudah tua, ga mungkin disuruh kerja mikir banyak-banyak. Biar yang muda-muda aja yang mikir". Kalau PNS yang tua-tua udah ga mungkin diminta kerja yang banyak mikirnya, apa mungkin disuruh kerja administrasi aja ? Bisa jadi sih....karena ga semua PNS itu mengenyam pendidikan strata 1 apalagi sampai strata 2. Banyak kok PNS yang latar belakang pendidikannya SMP, SMA atau D3. 

Yang menjadi cilaka kemudian adalah ketika PNS yang latar belakang S1 ketika mulai menjadi pegawai dan kemudian memiliki gelar S2 memiliki berpola pikir "udah ga bisa bekerja yang pakai mikir, biar muda-muda aja yang bekerja". atau mereka yang kemudian biasa melakukan pekerjaan administrasi dan berusaha mengubah tingkat pendapatan dengan meningkatkan level pendidikan menjadi seorang sarjana tapi klo diajak memanfaatkan kesarjanaannya untuk mengatasi pekerjaan malah nda mau. 














Selasa, 30 Oktober 2018

Gelonggongan

Udah pernah ta kasih tau belum sih ? Klo anak lanang sekarang udah kelas 3 SD ? Klo belom, ya berarti sekarang udah pada tau ya kalau anak lanang kelas 3 SD.

Bukan cerita baru lagi kalau kurikulum pendidikan yang diterapkan di Indonesia bikin sesak dada dan pening kepala. Seakan-akan menjauhkan anak-anak dari yang namanya pendidikan menyenangkan atau sekolah yang menyenangkan.

Kemarin anak lanang dibagikan hasil ulangan tematiknya. Tematik pertama setelah rapot mid test dibagikan bulan lalu. Ulangan tematiknya dilakukan pada hari rabu minggu sebelumnya. Anak lanang dr sabtu (atau minggu ya ? Lupa :p eh atau dari sebelum sabtu ya?!) udah ngereview kertas kerja dia selama di sekolah (biasanya baru dibagiin pada akhir minggu sekolah). Nah pas hari selasa malam dia mo siap2 belajar karena rabu ulangan dia malah ketiduran sodara2!!!😅 di atas folder LC nya😅😅. Ya udah lah ya, que sera sera.

Lalu rabu sore dia cerita kalau ulangannya susah banget!! Aku ga ngerti harus bagaimana menjawabnya. Saking gemes aku sampe nangis ma 😅😅😅😅😅😅 (begitu kata anak lanang)...

Rasa penasaran dengan soal macam apa yg dihadapi anak lanang, terjawab sudah. Ketika kemarin dibagikan hasilnya, ppkn bagus, bahasa indonesia bagus, matematika lumayan...klo bahasa anak lanang "aku beruntung, ga ikut remidi. Temen2 ku ada yang harus remidi".

Membaca soal matematika tematik...saya kemudian menyimpulkan beberapa hal :
1. Too much
2. Too much
3. Too much

Ahahahahahah..... Krik...krik..krik...saya perjelas lagi...

Too much yang pertama : ketika anak2 baru dikenalkan dengan konsep perkalian, konsep jarak, berat dan waktu. Pada saat yang sama mereka harus bisa memetakan informasi untuk menjawab soal. Karena melalui kurikulum nasional spt nya guru juga dituntut untuk mengenalkan sejak dini pada anak2 tentang soal cerita.

Too much yang ke dua : Ketika membaca soal cerita anak2 harus memetakan berbagai macam informasi yang disajikan dalam soal. Apakah tentang jarak, tentang berat ?. Jika sudah mengetahui soalnya tentang materi apa, anak2 perlu lihat lagi dari informasi disoal apakah perlu dilakukan persamaan satuannya? Lalu kemudian dikerjakan dengan di kali atau dijumlah. Atau di kali dulu baru dijumlah?

Too much yang ke tiga : terlalu cepat lompatan2 yang harus dilakukan oleh anak2 dalam belajar sesuatu yang baru.

Saya pribadi merasa, dalam menguasai atau mengetahui atau paham tentang sesuatu yang baru ada yang namanya belajar. Yang dalam proses belajar ada yang namanya tahapan yang harus dilalui sampai akhirnya menjadi sekedar tahu, sekedar bisa atau syukur2 malah menjadi master.

Bukankah begitu semenjak dr bayi ? Keluar dari rahim, manusia dikenalkan dengan puting ibunya supaya dia tahu sumber makanan pada 6 bulan pertama kehidupannya, kemudian dikenalkan dengan makanan..dikenalkan bagaimana mengucap kata, naik menjadi kalimat hingga akhirnya menjadi bicara...

Menjadi sekedar tahu, sekedar bisa atau menjadi mahir, atau menjadi suka karena diawal ada yang namanya tahapan belajar. Ga ujug ujug langsung bisa, langsung mahir (kecuali yang punya kecerdasan luar binasa).

Baru aja kenal udah dibuat sulit...gimana mau suka?. Tapi memang sistem pendidikan dengan kurikulum pendidikan nasional di Indonesia yang menetapkan demikian. Mengharuskan guru menggelonggongkan anak2 supaya lekas panen.

Semoga masa depan pendidikan Indonesia lebih baik lagi.


Jumat, 10 Agustus 2018

Hidup selalu tentang Memilih ....

Lagi rame tentang pendaftaran capres cawapres 2019!! Ramenya ngalahin berita tentang gempa di Lombok, padahal hampir tiap hari gempa berkisar di skala 5 - 6 Richter mengguncang Lombok. Belum ada yang ngomongin, bagaimana kekuatan bangunan yang hampir setiap hari diguncang dengan skala demikian itu. Masih aman untuk dipakaikah seandainya patahan-patah tersebut berhenti bergerak? perlu ada scanning kah tentang kekuatan bangunannya ?.  

Ya udah deh, saya nikmati aja nyinyiran, dukungan, pesimistis, optimistis orang-orang di medsos untuk kedua belah kubu. Pilihannya ga ada yang mantap!, Ah ga masalah siapa pasangannya, yang penting Presidennya!, yah...kok itu sih pasangannya ? hopeless lah gw, malas nyoblos lah gw....mending golput dan banyak lagi status lainnya...yang intinya pada kecewa, pada menurun semangatnya.

Entah kenapa, semenjak saya punya Hak Suara, saya bener-bener memanfaatkan Hak saya itu. Tidak pernah sekalipun dalam Pilpres atau Pilgub atau Pilwalkot saya Golput. Karena Menjadi Golput seperti lari dari masalah, lari dari kenyataan hidup.

Hidup ga selalu membawa kebahagiaan, hidup ga selalu membawa kesedihan, tapi hidup menawarkan segalanya untuk dipilih. Kita belajar dan berkembang dari pilihan kita, oleh karena itu harus tetap memilih. Dont be too Picky, tapi tetep selektif, ditimbang mana yang  lebih banyak manfaatnya mana yang lebih banyak mudaratnya. Ga ada yang sempurna didunia ini, ga ada yang abadi, karena apa ?? Karena kesempurnaan dan keabadian hanya milik TUHAN semata. Jadi sejelek apapun pilihan yang ditawarkan, saya selalu memilih.

Seperti tahun 2009, ketika ada 3 pasang capres cawapres. ora ono sing bener-bener pas dihati. SBY dipandangan saya waktu itu ga layak untuk periode kedua. Yang sebenernya bertentangan dengan prinsip saya sendiri bahwa butuh 2 periode untuk buat mewujudkan visi misi. JK, lha kenapa pisah dr pasangan terdahulunya ? Why ?, Mega.....bisa ga jangan ibu aja yang jadi Capresnya, tapi pasangan ibu yaitu Prabowo. Aaaarrrggghh.....pokoknya harus tetep kudu milih!! Jadilah saya nyoblos gambarnya Prabowo.

Tahun 2014, Jkw dan JK...duh pak de...Gimana ya...wkt di Solo sih bagus, tapi Jakarta aja belom 3 tahun...ntar aja ya Pak..periode berikutnya benerin dulu Jakarta tunjukin dulu kinerja. Lalu saya pun menjoblos Prabowo.

Intinya adalah....saya tidak mengijinkan diri saya Golput, hanya karena alasan tidak ada yang pas....harus tetep ada yang dipilih seburuk apapun pilihannya...

Jadiiiii...Yuuuk kita manfaatkan hak yang sudah diberikan kepada kita. Supaya ga ada yang mubazir...buang-buang kesempatan. Karena Hidup akan selalu tentang Pilihan. Supaya kita bisa tetep tumbuh, berkembang dan belajar.




Senin, 06 Agustus 2018

Jangan Larang, Tapi Beri Pemahaman....

Ada sebuah peristiwa kemarin terjadi di sekolah anak lanang, yang melibatkan anak lanang dan beberapa anak laki lainnya di kelasnya. Saya banyak sekali belajar ttg kebenaran sebuah teori parenting dari peristiwa tersebut. Salah satunya yang mau saya share dipostingan kali ini.

Ketika anak lanang papasan sama temen  cewenya, yang muslim baru saja selesai wudhu,

Anak cewe : "jangan sampai kena aku, karena aku baru wudhu. ga boleh dipegang"
Anak lanang :"kenapa ?"
Anak cewe : "ya ga boleh"
Anak lanang : "kenapa?"
dan rasa penasarannya akan himbauan temennya yang cewe itu justru memancing rasa penasaran anak lanang. Dia bertanya-tanya, emangnya apa yang mungkin terjadi jika saya pegang temen saya ini ?

Saat dia megang temennya dan tidak ada yang terjadi apa-apa (menurut versi anak lanang) dia masih terheran-heran, ga ada apa-apa..kenapa aku ga boleh megang...

Sementara anak cewe itu marah ke anak lanang, karena anak lanang ga mau denger himbauannya temen cewenya itu, dan meninggalkan anak lanang sambil marah ke anak lanang.

Oh Boy !!! ternyata ini arah pertanyaanmu tempo hari. Karena beberapa hari sebelum ada kejadian ini, anak lanang pernah bertanya, kenapa orang yang habis wudhu ga boleh dipegang ma?".

Setelah memberikan penjelasan tentang kenapa ga boleh, anak lanang belajar dan berusaha untuk menghormati temennya yang muslim yang baru wudhu.

Buat saya orangtua, saya jadi belajar juga. Melarang seorang anak untuk tidak melakukan sesuatu malah mendorong mereka untuk melakukan apa yang dilarang tersebut. Karena rasa penasaran anak-anak belum terpuaskan dengan hanya sekedar larangan. Perlu dijelaskan, sehingga mereka lebih paham. 

Rabu, 21 Maret 2018

Konsep Surga

Kemarin anak lanang menjalani ulangan tengah semester agama (eh, sebenernya UTS itu stand for Ujian Tengah Semester atau Ulangan Tengah Semester?). Kalau gw nyebutnya ulangan, karena gw jelasin ke anak lanang, bahwa yang namanya ulangan itu, adalah mengulang apa yang dipahami selama masa belajar di sekolah, dan cara mengulangnya adalah harus menjawab pertanyaan. Kalau kamu paham, maka kamu bisa menjawab pertanyaannya, kalau ga paham, berarti saat guru menerangkan kamu "bengong", "ga tertarik", "ga konsentrasi", "main dengan hal-hal lain".... jadi kamu ga paham.

Balik lagi ke niat awal nulis post ini, yaitu mau cerita tentang pertanyaan saya ke anak lanang "Gimana Kak, Ulangan Agamanya?". Lalu si anak lanang menjawab "aku yakin dapat 90 ma, karena ada 1 soal yang aku ga tau". 

Mama : Soal apaan kak ?
Anak Lanang : Aku lupa....pokoknya tentang warna warna gitu, bagaimana mencapai warna klo ga salah
M : Hah? Panca Warna ?
AL : Bukan, cuma karena aku ga tau ya aku jawabnya pakai jembatan....
dan kami semua ketawa denger jawabannya. 

Tapi saya penasaran, sebenernya apa sih maksudnya nanta dengan pertanyaan yang dia ga paham jawabannya. materi apa di pelajaran agama Hindu yang berhubungan dengan warna dan sampai dia jawab dengan jembatan?

Dalam perjalanan nemenin Oomnya cari makan, di mobil langsung ketemu jawabannya....

Mama : Kak, maksud kk pertanyaan yang kakak ga paham itu nirwana ?
AL : aahhh..iya ma, aku ga tau nirwana itu apa ....
saya langsung ngomong sama Pak Suami yang lagi nyetir
M : hmmmm...kita ga pernah kasih pengertian tentang apa itu Surga ke anak-anak.

Saya sebagai orang tua anak-anak, tidak membiasakan untuk menyampaikan, tentang dosa, surga atau neraka kepada anak-anak. Kepada anak lanang saya menjelaskan tentang salah 1 point dari konsep 5 hal yang dipercayai sebagai orang Hindu Bali, yaitu 

Panca Srada.
1. Percaya Pada Ida Sang Yang Widhi,
2. Percaya Pada Atman, 
3. Percaya Pada Karma, 
4. Percaya Pada Samsara / Purnabawa / Reingkarnasi
5. Percaya Pada Moksa

Saat ini dia baru kami kasih pemahaman tentang Ida Sang Yang Widhi, Atman dan Karma. 

Untuk konsep surga dan neraka, dosa atau ga dosa sangat jarang sekali kami sebutkan atau bahkan kami bahas kepada anak lanang. Pernah ada saat, dimana dia menanyakan "mama dosa itu apa?, aku denger temenku ngomong dosa ke temenku yang lain.", "banyak dosanya nanti masuk neraka" 

Saat itu, saya menjelaskan, "kakak teman-teman kakak ada yang menyebut berbuat tidak baik itu sama dengan dosa. Tapi kakak atau siapapun juga ga bisa bilang ke orang lain bahwa orang lain punya dosa atau saya punya dosa. Karena yang paling mengetahui dan yang paling bisa menilai cuma Tuhan, bukan manusia". 

"Untuk neraka, mama ga bisa menjelaskan. Kakak harus paham, orang Hindu Bali percaya dengan yang namanya Karma." 

"You Do Good, You Get Good, You Do Bad You Get Bad, tapi ga selalu langsung kakak terima hasil perbuatan kakak. Yang harus kakak pahami supaya kakak Never Stop To Do Good always".

Kemudian, kembali ke pertanyaan di soal ujian "Bagaimana caranya kita mencapai Nirwana ?"
di jawab sama kakak, pakai jembatan....

Rabu, 21 Februari 2018

I can't Turn Back Time

Kemarin Nyepi, adalah best moment untuk saling mendengar, memahami satu sama lain ke keluarga, karena kita ga ke distract dgn HP, TV dan kerjaan.

Tapi, kemudian aku nangis...karena mendengar cerita Anak Lanang. Tentang Mbok yang dulu kami percayakan untuk ngempu Anak Lanang.

Dia bilang kangen sm Si Mbok. Pengen kasih liat si Mbok, kalau sekarang Anak Lanang udah besar, udah kelas 2 SD, udah bisa main yoyo, udah bisa menggambar.

Walaupun...si mbok galak, suka jewer aku, jambak aku dan pukul pantat aku. Keraas banget sampai aku kesakitan nangis.

Jantung mau copot rasanya denger Anak Lanang cerita. Apa bener Kak ? Kok ga pernah cerita ?...Dia diem, mungkin baginya tidak cerita ke Mama adalah baik buat dia, daripada cerita besok mama ke kantor aku ga tau bakal diapain sm si Mbok.

Kamu bisa dikasarin begitu, karena kamu berbuat apa Kak ?

Ya karena aku mau main, kata mbok ga boleh, aku naik-naik ke lantai 2 dan kalau aku main air. Langsung kena jambak atau pukul pantat aku atau jewer. Sakiit nya buat aku lupa untuk cerita ke mama.

Tapi aku udah ga kenapa-kenapa. Aku mau ketemu si Mbok kalau bisa ma.

Dalam gelap, air mata keluar..saya ga bisa memutar waktu kembali pada masa itu....masa dimana saya ga bisa melindungi dia, di umur seharusnya dia dilindungi.

Minggu, 28 Januari 2018

Meter Ke Centimeter

Jumat kemarin, Anak lanang udah di bagiin lembaran LC (Leraning Center) untuk Tema 5. E buseeet!! udah belajar satuan panjang. Tinta merah Ibu Guru anak lanang menghiasi kertas LC anak lanang. Bukan karena anak lanang salah ngerjainnya, tapi dia ga ngikutin perintah tugasnya. Duh Beeeb, kamu kok bikin gemes mama.... kan jadinya mama membayangkan kamu lagi ngelamun lah, lagi asik dengan hal-hal lain yang menurut kamu lebih asik....

Bebeb...mama tuh ga pintar matematika, tapi kamu tau ga beb, matematika itu sebenernya seru....sekalinya kamu paham....Sambil ngeliat tinta merah Ibu Guru di LC nya ......

Hari Jumat 

Mama : "Yang, besok Sabtu kita belajar yak!"
Anak Lanang : "Apaaah!!! kan besok Sabtu..aku mau nonton"
M : kan cuma bentar doang cinta....
AL : Janji mama ga pake marah ?
M : tergantung, kamu konsentrasi ga...klo kamu konsentrasi 5 menit juga selesai
AL : Ya udah...

Sabtu 

  • Ada oom nya nge WA ngajakin renang di Hotel tempat Oomnya nginep...
  • Selesai renang  meluncur ke Sekolah, karena Anak lanang ga mau ngelewatin xtra BAsket
  •  Jemput ke sekolah, terus ke bordir shop buat ngebordir Baju OR nya, terus cuci sepatu, terus ke ATM buat nyetor duit dari Wayahnya ke Rekening Anak Lanang (sekalian belajar ngenalin mesin ATM Setor, belajar baca, dan ngikutinn instruksi), terus nge Burjo, terus potong rambut (He is Looking GOOD !!"), terus nganter mama ke Dokter gigi. terus balik ambil sepatu..
Dan akhirnya ga jadi belajar...karena kemudian mama ngevacuum mobil yang bakal dipakai buat ngebolang ke BAli via darat.


Minggu 

Sekolah agama, nonton DVD, main, bikin huru hara, bikin mendoan, makan, main, makan, main.....

Dan malam pun menjelang........

M : kak...ayo dong mau belajar ga?"
AL : Hooo iya...tapi aku tu udah bener semua kok ma ngerjain LC nya....
M : Yang bilang kamu salah ngerjain LC siapa...

Dan drama sebelum mulai belajar adalah Kotak Pensil yang dia ngerasa inget banget naruh kotak pensilnya dimana, seisi rumah di ubek-ubek.

M : Kakak yakin udah cari yang bener di dalam tas kakak ?
AL : Yakin...bener aku ma
M : Di restleting bagian depan ?
AL : Udah...
M : Ya kalau ga ada, berarti ketinggalan di sekolah agama tadi
AL : Aku yakin udah aku masukin...

Duh Beb, terus kemana itu kotak pensil...Mama beranjak ke kamar anak lanan di lantai 2....buka tas nya, cek di restleting depan, cek di dalam tas, dan cek di lapisan dalam tas...ngejogrok itu kotak pensil di dalamnya..Bebeeeeeb....katanya udah nyari....Jangan esmosi ya ma...kan mau belajar...Tahan esmosinya...


M : OK Kakak...ternyata pelajaran Tema 5 masih sama PPKN nya tentang aturan,...harusnya kamu udah paham ya....kamu tau kan artinya PPKN kepanjangan dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan?
AL : Aku ga tau ma...aku baru denger...
M : MAsa Sih Kak, kan kalau ulangan di Bagi 3 PPKN Selalu di awal ...coba ambil folder ulangan kamu...

Lalu nunjukin tulisan PPKn di Halaman kertas ujiannya....

M : Nah ini, PPKn...P itu untuk Pendidikan, P  ke-2 untuk Pancasila, K itu Kewarga dan N untuk Negara

AL : OOoo PPKN itu artinya itu toh Ma....aku baru tauuuu sekarang

Buseeet ni anak...kurang baca, kebanyakan main, Hobi Nonton....Ckckck....

M : ya udah kamu paham ya tentang kenapa Aturan itu harus dibuat, dan manfaatnya, sekarang kita lihat LC matematika.. Tema 5 ini udah ga belajar tentang uang, jadi nanti lagi mama jelasin tentang Uang ya...Sekarang kita belajar tentang Satuan Panjang.


Buka-buka latihan LC nya, jadi cuma antara M ke Cm dan sebaliknya. How to make Him understand ?  Sebelum mulai mempraktekan, perlu tau sejauh mana pemahamannya...



Masih inget ga sih dulu kita belajar satuan panjang pakai tangga ini. Jadi aku mulai dengan anak tangga ini ketika menjelaskan ke anak lanang tentang kenapa 1 Meter itu bisa menjadi 100 Cm.....takes times...karena ini tu hal baru buat anak lanang...mulai dari buat garis melengkung supaya dia tau kalau itu berapa langkah...dan 1 langkah itu kali berapa

M : Nang, karena kamu baru belajar Meter ke Centimeter, Jadi kita ga bahas satuan panjang yang lain yaa. Nah beb, kenapa 1 M sama dengan 100 Cm ? 
AL : karena sebelum dia ke Cm, dia harus turun dulu ke Dm. kalau turun 2 tangga berarti ada 2 10, jadi 10 x 10 sama dengan 100....

M : OK kakak kamu sudah paham yaaa.....baru kita ke penggaris. Kenapa pake penggaris ? 

AL ; karena penggaris buat ngukur panjang  suatu benda ma..
M : ini penggaris pakai satuan Cm 'nang. Sekarang lihat kamu punya LC,,,,,semua jawaban kamu bener...tapiiiiiiiii...orang ga tau kalau garis yang kamu buat itu memang bener sesuai dengan apa yang di minta oleh soalnya. Belom lagi ada garis yang ga lurus....mungkin itu garisnya kayak jalan rusak depan rumah kita, jadi bergerenjel...ga rata.
membuat garis seperti yang diperintahkan oleh soal ada caranya.......kamu coba lihat penggaris kamu. itu ada angka2, ada garis2 kecil, ada garis2 yang lebih panjang dari garis lainnya. itu ada artinya kakak. untuk sampai pada 1 cm, dia harus ada 10 garis kecil-kecil itu, yang di sebut dengan milimeter. sekarang kk coba itung ada berapa garis kecil2nya...

AL : bener iq ma, ada 10, artinya 1 cm sama dengan 10 mm...
M : iya kak, karena apa ? karena dari Cm ke Mm cuma turun 1 tangga. jadi kali 10 aja...

Nah ...udah selesai belajarnya kak.....lalu dia diem...

M : Kk lagi mikir apa ?
AL : ternyata bener kata mama, klo otak itu seperti pisau..kalau ga di pakai jadi ga bisa buat motong..aku mau makan es krim ma...
M ; hah?! ya udah sana bilang papa...


Apa coba hubungannya pisau sama es krim.....💆









Lanjutan Pertama Menghitung Berkat #1

Previously :  Saat dia berdiri, batin saya "astaga kok jeansnya robek semua gini, apakata bokap pas liat beginian?!! Emang dia suka nai...