Menebarkan ketakutan disebut teror. Orang yang melakukannya disebut teroris. Pahamin dulu arti katanya, baru kemudian gunakan kata tersebut dengan bijak.
Peristiwa bom di kuta dan legian, membuat kata "teroris" menjadi booming. Dan membuat sebuah stigma di kebanyakan orang jika ada peristiwa serupa terjadi lagi. Selalu dikaitkan dengan agama tertentu dengan ciri orang tertentu.
Saya pribadi juga termasuk orang yang kemudian terbawa pada pemikiran dan stigam yang demikian. Pertemuan dan diskusi dengan orang yang memiliki pemikiran terbuka dan cara pandang yang mengajak saya untuk mengosongkan gelas pikiran saya ketika mendiskusikan sebuah peristiwa, perlahan mengikis stigma yang keburu melekat.
Hingga kemudian, serangkaian peristiwa di Surabaya dan Mako Brimob menjustifikasi pemahaman saya terhadap sebuah stigma adalah keliru.
Teroris has no religion, semua orang dengan latar belakang agama, suku atau apapun itu bisa menjadi teroris. Bahkan bagi sesama agama yg dianut oleh teroris tersebut.
Ketakutan yang ditimbulkan tidak berhenti ketika secara masive menghilangkan nyawa dengan sebuah tombol atau pelatuk. Tapi tumbuh ketakutan lainnya, takut melihat orang dengan ciri tertentu, takut untuk mengutarakan pendapat sekedar untuk meluruskan pemikiran dan pemahaman yang keliru, hanya supaya ga dianggap kita berbeda kubu.
Jika yang namanya kedamaian menular, begitu juga dengan kebencian. Kedamaian menular ketika peristiwa kecil atas nama nurani, kemanusiaan dan ketuhanan (tanpa melihat agama apa yang dianut) ditunjukan tanpa mengafiliasikan hal tersebut pada kelompok tertentu. Dan kebencian adalah ketidakadaan semua itu.
Kemanusiaan tidak seharusnya diteriakan ketika sesuatu terjadi pada kelompokku yang dilakukan oleh kelompokmu. Kemanusiaan tidak seharusnya hilang ketika sebuah peristiwa terjadi pada kelompok mu akibat sebuah kelompok yang mempunyai kesamaan pondasi dengan ku wlwpun aku bukan bagian dari kelompok itu.
Satu nyawa hilang, tidak seharusnya dilihat dari kelompok mana nyawa itu, oleh kelompok siapa yang membuat nyawa itu melayang.
Melabelkan satu peristiwa yang berkaitan kemanusiaan dengan sebuah kelompok dan menutup mata untuk peristiwa serupa yang terjadi bukan pada kelompoknya...adalah tanda hilangnya kedamaian dan tumbuhnya kebencian.
Kalau mengafiliasikan segala peristiwa hanya pada kelompoknya, tidak akan pernah ada sampai pada titiknya.
Jika atas nama agama, kamu kehilangan kemanusiaann mu...tidak akan pernah kedamaian yang bisa kau tularkan pada orang lain.
Aku bukan orang yang beragama, kalau aku menutup mata atas peristiwa yang berhubungan dengan kemanusiaan. Hanya karena peristiwa itu tidak berhubungan dengan kelompokku.
👍
BalasHapus