Sejak menikah Tahun 2010, saya mulai terbuka pikirannya untuk membatasi penggunakan bumbu instan untuk memasak.
Mulai membaca ingredient disetiap kemasan bumbu instan itu. Natrium Carbonat, Zodium Benzoate, Glutamat, perisai rasa, penguat rasa, penyedap, semua yang ada tulisan seperti itu di kemasannya sudah tidak lagi menghiasi rak bumbu. Bahkan tepung instan pun tidak lagi.
Kemudian saya mengandalkan bumbu dapur. mulai dari bawang merah sampai dengan biji adas, tambahan daun penyedap mulai dr daun salam sampai daun karipulay.
Rasa masakan menjadi gurih alamiah dengan cairan kaldu yang dibuat sendiri setiap minggu. membuat stock sendiri dirumah. Ada 2 pilihan kaldu yang bisa dibuat sendiri, pakai daging sapi atau pakai daging ayam kampung. Saya sendiri lebih suka memilih menggunakan daging sapi, karena daging ayam kampung harganya mahaal banget 1 ekornya.
Anyhow....semua masakan itu kuncinya ada di 2 bumbu dasar, yaitu bawang merah dan bawang putih. Kadang kalau saya berbelanja 2 bumbu dasar itu, harganya sudah selangit (1/2 kg 25-30 ribu harganya), bersyukur masih bisa ke beli seharga itu. Tapi terus jadi mikir...
Gimana keluarga kalangan ekonomi rendah ya ? gimana bisa kasih makanan sehat ke anak-anaknya kalau harga bawang merah dan bawang putih yang menjadi bumbu prima masakan harganya segitu. ibarat kata beli 2000 perak cuma bisa buat masak 2 kali, masak sayur bayam jadi ga sedep, masak tumis kangkung jd ga gurih..mending beli bumbu instan, sedikit cemplung ke masakan...wuaaah rasanya enak banget..ga pening kepala mamak mikirin ngatur uang belanjaan.
Akhirnya bumbu pabrikan menggantikan rasa gurih yang alamiah. Ironis ya...Indonesia dulu dijajah, karena rempah-rempah yang kita miliki. Tapi sayang sekali kalau makanan yang terhidangkan dimeja makan taste rempah-rempahnya berasal dari pabrikan. Ya tapi gimana lagi Buuu, ketimbang mutih...ya kaaan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar